Senin, 24 Februari 2025

Kisah & Kronologis Turunnya Ayat Tentang Sedekah

 



KISAH & KRONOLOGIS TURUNNYA AYAT

TENTANG SEDEKAH

( Bukti Kasih Sayang Nabi saw kepada Umatnya )


Dibalik doa, salah satu rahasia yang telah dicoba oleh kaum arifin untuk menghadapi datangnya bencana, berbagai peristiwa menakutkan dan penyakit adalah dengan memperbanyak sedekah kepada kaum dhu’afaa`, berinfaq di jalan Allah (seperti mendermakan hartanya untuk musholla, pondok pesantren dan lain-ain). Begitu pula ketika mereka di dholimi atau disakiti. Melakukan berbagai amal (sedekah) sebagai wasilah atau kendaraan agar lebih cepat sampai (dikabulkan) Allah SWT.

 

Ketahuilah, Setiap sedekah yang kita keluarkan disesuaikan dengan besar kecilnya bencana yang terjadi. Sedekah ini bagaikan penebus dari bencana tersebut.  Amal yang mereka kerjakan untuk persoalan ringan tidak sama dengan amal yang mereka kerjakan untuk mengatasi persoalan yang berat. Untuk suatu tujuan yang besar, mereka mencurahkan sesuatu yang besar pula. Seseorang yang mengetahui rahasia-rahasia ini berarti telah memperoleh salah satu dari ilmu-ilmu kaum khusus (Al Hikmah).

 

Untuk itu simaklah urutan Ayat-Ayat Tentang Sedekah di bawah ini (yang Diambil dari Kitab Al-Mawaidh Al-Ushfuriyyah oleh Syekh Muhammad bin Abu Bakar).

 

Diceritakan dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi saw bersabda, ketika turun ayat:

`yJsù ö@yJ÷ètƒ tA$s)÷WÏB >o§sŒ #\øyz ¼çnttƒ

“Barangsiapa beramal shalih seberat biji zarah, Allah melihatnya.”  (QS. Az-Zalzalah : 7)

 

Maka Aku (Nabi saw) berkata kepada Allah, ; “Itu terlalu sedikit bagi umatku, wahai Tuhanku.”

Allah menjawab, “Kalau begitu kujadikan tiap satu kebaikkan menjadi dua kebaikkan.”

Tertuang dalam Al-Qur’an :

Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang Telah kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan..” 

(Al-Qashshos : 54)

Nabi saw berkata, “Masih kecil bagi umatku.”

Allah berfirman, “Satu kebaikan pahalannya sepuluh kali lipat.”

Firman-Nya dalam Al-Qur’an : ” Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat Maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)..”  (QS. Al-An’am : 160)

 

Nabi berkata, “Ini juga masih sedikit bagi umatku.”

Allah berfirman, “Satu kebaikkan menjadi 700 kali lipat.”

Tertuang dalam Firman-Nya yang artinya :

” Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 261)  

Nabi saw meminta : “Tambahkanlah lagi bagi umatku, wahai Allah,” 

Allah menjawab dengan firman-Nya :

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) & kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al Baqarah : 245)

Nabi saw meminta : “Tambahkanlah lagi bagi umatku, wahai Allah,” 

Allah menjawab dengan firman-Nya :

 Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.  (QS. az-Zumar ;10)

 

Renungi dan pikirkanlah !

Betapa sangat sayangnya Nabi saw kepada umatnya, dengan meminta kepada Allah, agar pahala amal umatnya di tambah. Tujuannya agar selamat di dunia dan akhirat. Oleh sebb itu senangkan Nabi saw dengan  selalu berbuat baik, senang sedekah dengan tetap sabar. Allah akan memberikan pahala tanpa batas serta memperoleh kebaikan yang banyak di dunia dan di akhirat.

 

*******

Betapa Pentingnya Niat Dalam Beramal

 BETAPA PENTINGNYA
NIAT DALAM BERAMAL

Semua amal perbuatan yang baik (termasuk zakat, infaq & sedekah)  tergantung dari NIATnya. Niat seseorang dipengaruhi oleh pemahaman dan keyakinannya. Keyakinan seseorang dipengaruhi oleh kadar Ilmu agamanya.

Bagi orang awam, akan bertanya bolehkah kita dalam Beramal dan beribadah berniat untuk kepentingan duniawi...?

Mari kita kaji bersama.


 1. Apakah Niat itu ?

 

Perlu diketahui, niat termasuk urusan batin atau hati  yaitu sesuatu keinginan dan maksud yang ada di pikiran, perasaan dan jiwa.  Tanpa ilmu (ngaji) dan guru, kita semua tidak akan paham akan hal ini. Zaman sekarang ngajinya di mbah Google dan Youtube. Dikuatirkan keliru pemahaman, efeknya keliru penerapan dan tidak mendapat kebaikan dan tidak mendapat balasan atas semua amalnya.

 

Imam Al Ghazali mendefinisikan makna niat sebagai kehendak atau maksud, atau satu kondisi dan suasana hati yang dikelilingi dua hal yakni ilmu dan amal (perbuatan).

 

Definisi yang mudah niat adalah seseorang mempunyai azam (kemauan kuat) di dalam hati dalam satu kondisi dan suasana hati yang dikelilingi dua hal yakni ilmu dan amal (perbuatan). Hingga menjatuhkan pilihan dan tekat bulat untuk melakukan hal tersebut.

 

Secara syar’i niat adalah kemauan kuat dan tekat bulat di dalam hati (batin) untuk melakukan amal dan ibadah dengan ikhlash karena perintah

Allah dan RasulNya. Kesempurnaanya, diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan, dilakukan dengan amal perbuatan.

Berdasarkan Ensiklopedi Akhlak Rasulullah Jilid 1 oleh Syaikh Mahmud al-Mishri, Imam An-Nawawi berkata bahwa "Niat adalah ukuran keshahihan amal perbuatan, apabila niatnya benar, maka amalnya pasti benar. Jika niatnya rusak, rusak pula amalnya."

 

Penegasan dari Nabi Muhammad Saw bersabda :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى،

"Seluruh amal perbuatan tergantung pada niat. Setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan.

 

Lanjutan hadits yang artinya  Siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa saja yang hijrahnya karena dunia yang akan diperoleh atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya hanya memperoleh apa yang diniatkan."   (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Mengartikan bahwa seseorang melakukan amal perbuatan yang baik, seperti sedekah ada yang niatnya rezeqinya lancar, agar diberi keselamatan, agar penyakitnya segera sembuh dan lain sebagainya.

Apakah ini tidak diperbolehkan ?

Agar kita tidak salah paham atau gagal paham, ikuti keterangan para ulama’ dibawah ini.

 

Imam Al Ghazali menerangkan, ''Alangkah besarnya kerugian orang yang lalai terhadap niat dalam mengerjakan sesuatu.''  

 

Secara bahasa, orang Arab menggunakan kata-kata niat dalam arti ‘Sengaja’. Terkadang niat  juga digunakan dalam pengertian sesuatu yang dimaksudkan (al-qashd) atau disengajakan. Sementara secara istilah syar’i, niat didefinisikan sebagai azam atau tekad untuk mengerjakan suatu ibadah dengan ikhlas karena Allah, yang letaknya berada di dalam batin atau hati.

 

Dalam ilmu filsafat, sebuah khayalan, angan-angan, cita-cita, maksud, tujuan, gagasan, ide-ide hanya sebuah keinginan sesaat diruang pikiran dan perasaan (batin) belum menjadi Niat. Tapi semuanya akan mendorong menjadi niat baik atau buruk, tergantung kondisi hati, pikiran, perasaan dan keadaan seseorang. Jika orang tersebut sudah Niat, berarti akan melahirkan kemauan kuat (azam) dan tekat bulat (rencana atau rancangan) secara langsung akan mendorong untuk melakukan amal atau perbuatan yang mengarah yang dimaksud atau di tuju.

 

Imam Nawawi mengatakan Niat adalah bermaksud untuk melakukan sesuatu dan bertekad bulat untuk mengerjakannya. Pendapat lain mengatakan “Niat adalah maksud yang terdapat dalam hati seseorang untuk melakukan sesuatu yang ingin dilakukan.

 

al-Khathabi mengatakan, “Niat adalah bermaksud untuk mengerjakan sesuatu dengan hati dan menjatuhkan pilihan untuk melakukan hal tersebut. Namun ada juga yang berpendapat bahwa niat adalah tekad bulat hati.”

 

 

2. Apakah Niat Perlu Di Ucap ?

 

Syaikh Salim bin Samir Al-Hadlrami dan Syaikh Abu Abdil Mu’thi Muhammad Nawawi Al-Jawi, mereka berpendapat ".....dan tempatnya niat adalah hati dan pengucapan niat hukumnya sunah." .

Mereka berpendapat bahwa "Pengucapan niat dengan lisan untuk membantu kemantapan hati"

Secara garis besar ada tiga aspek yang menjadikan kuatnya Niat, yaitu :

1.      Diyakini dalam hati;

  1. Diucapkan dengan lisan (tidak perlu keras sehingga dapat mengganggu orang lain atau bahkan menjadi ijma);
  2. Dilakukan dengan amal perbuatan.

Jadi niat akan lebih kuat bila ke tiga aspek diatas dilakukan semuanya, sebagai contoh kita berniat untuk shalat, 

-          Hatinya berniat untuk shalat karena Allah.

-          Lisannya mengucapkan niat untuk shalat dan

-          Tubuhnya melakukan amalan shalat.

 

Lebih jauh lagi Imam Al Ghazali dalam kitab  Ihya Ulumuddin  mendefinisikan makna niat sebagai kehendak atau maksud, atau satu kondisi dan suasana hati yang dikelilingi dua hal yakni ilmu dan amal (perbuatan). Ilmu memiliki posisi terdepan sebelum perbuatan. Dengan adanya ilmu dan pengetahuan seseorang baru bisa berbuat. Jadi, hasil perbuatan tersebut merupakan hasil dari ilmu yang dimiliki seseorang sebelum berbuat. Maka, ketika ilmu yang mereferensi perbuatan bernilai negatif, maka negatif pulalah perbuatan yang dihasilkan.  Karena sangat pentingnya menata niat sebelum berbuat.

Sehingga dalam penerapan niat terjadi korelasi (hubungan) antara :

ILMU – HATI  – UCAPAN – PERBUATAN

Pada Buku jilid 1 ini, kami menjelaskan secara garis besarnya (poin utama) agar orang awam bisa dengan mudah menerapkannya (praktek).  Keterangan lanjutan kami jelaskan panjang lebar di Buku Jilid 2.

 

 

3. Penerapan Niat Sedekah

Seseorang akan mendapat sesuai dengan niatnya. Sebagaimana Nabi saw bersabda : "Seluruh amal perbuatan tergantung pada niat. Setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan.

Penerapan niat :

1.      Ilmu : Tentang sedekah (dalil).

2.      Hati : karena diperintah oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

3.      Lisan : Mengucap tujuan dari amal.

4.      Perbuatannya : mengeluarkan sedekah/infaq.

 

Contoh konkretnya, sesorang melakukan sedekah dengan tujuan agar rezeqinya lancar :

 

1. Dasar ilmu

Sebagaimana Rasulullah (S.A.W.)  bersabda :

"Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah."  (HR. Al-Baihaqi)

2. Hati : aku melakukannya karena diperintah oleh Allah SWT dan

    Rasul-Nya.

3. Lisan : aku sedekah karena Allah Ta’ala agar rezeqiku lancar.

4. Perbuatan/amal : mengeluarkan sedekah.

 

Dari 4 aspek ini, tampak jelas, bahwa sedekah dengan tujuan hajat duniawi diperbolehkan dengan syarat berdasar ilmu dalil Al Qur’an dan hadist serta ijma’ qiyas para ulama’.

 

ILMU akan mengarahkan hati, lisan & perbuatan pada satu tujuan wasilah memudahkan urusan agama, dunia dan akhirat.

HATI dengan yakin dan ikhlas bahwa sedekah melaksanakan perintah Allah SWT dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW bukan karena makhluk lainnya.

LISAN dengan ucapannya akan menguatkan tujuan/maksud bertendensi sebagai doa.

PERBUATAN merupakan wujud nyata melakukan sedekah dan merupakan kendaraan (wasilah amal).

Inilah kaifiyah dari niat dan beramal sholih. Insya Allah jaminan Allah bagi orang-orang yang berinfaq/sedekah.

 

Demiikian pula apabila kita mengimani segala sesuatu itu haruslah dengan hati yang yakin, ucapan dan tindakan yang selaras. Dengan definisi niat yang seperti ini diharapkan orang Islam atau Muslim itu tidak hanya 'semantik' saja karena dengan berniat berati bersatu padunya antara hati, ucapan dan perbuatan.

 

*********

BAB 1 - MENGUAK RAHASIA SEDEKAH

  

BAB I

Menguak Rahasia

SEDEKAH


 



PENDAHULUAN

 

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat.

 

1.  Allah Memerintahkan kita untuk

Mengajak/Menyuruh Orang Bersedekah

 

Seringkali kita melihat saudara, teman, tetangga atau keluarga menghadapi problematik dalam kehidupannya. Dan kita tahu solusi tercepatnya adalah sedekah. Dengan kata lain orang tersebut kurang dalam amalnya. Kita mau ngomong, agar dia melakukan sedekah. Timbul perasaan nggak enak atau segan. Apa yang kita lakukan ini dibenarkan oleh Allah & RasulNya serta apa dasarnya. Kemungkinan juga orang tersebut tersinggung. Oleh sebab itu, lihat ayat dibawah ini, insya allah kita mau mengajak orang bersedekah dapat pahala yang sama, bisa jadi lebih besar pahalanya.

 

Firman Allah Ta’ala QS. An Nisaa’ : 114

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan daripada orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keredaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

Ayat diatas menjelaskan, setiap kali orang bersosialisasi dengan teman, saudara atau tetangga yang terjadi adalah saling bercakap, omong-omongan, bisik-bisikan yang terbanyak berisi Ghibah (membuka aib seseorang) dan urusan-urusan duniawi semata, hal ini bukan termasuk kebaikan.

 

Sedangkan ngomong, membisiki dan mengajak orang untuk melakukan SEDEKAH merupakan sebuah KEBAIKAN (amar ma’ruf) dan dijamin pahala yang besar. Ingat kita melakukan hal ini tiada lain berniat mencari keridloan Allah. Pahala orang mengajak sama dengan yang diajak

 

Dalam sisi lain, Ayat diatas bentuk perimbangan, bahwa syetan selalu membisiki jiwa manusia untuk berbuat kikir dan takut dengan kemiskinan. Sedangkan orang yang mengajak atau membisiki manusia untuk melakukan sedekah, agar manusia mendapat pertolongan Allah dari masalah kemiskinan menjadi kaya dan perbuatan jahat menjadi hidayah kebaikan.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”  (QS. Al Baqarah :268)

 

Mari kita bersama-sama mendulang pahala, mengharap jaminan Allah, dari amar ma’ruf mengajak orang untuk melakukan sedekah dan yang paling utama kita sendiri memberi contoh dan menjadikan Sedekah sebuah gaya hidup menghadapi dan menyelesakan semua masalah. Semoga Allah melindungi hati ini dari sifat kikir dan memberikan cahaya  dermawan.

  

2.  Korelasi Ilmu – Niat - Amal

Semua amal sholih (amal kebaikan) seseorang tergantung dari niatnya dan seseorang akan mendapat sesuai dengan niatnya tersebut. Jika niatnya salah maka dia akan mendapat kerugian, apabila niatnya benar maka dia akan mendapat berlipat ganda pahala dan kebaikan. Niat dipengaruhi oleh keilmuan yang dimiliki dan dipahami seseorang. Ilmu yang kami maksud adalah ilmu khusus tentang sedekah dan infaq. Oleh sebab itu kami berbagi ilmu tentang sedekah, agar mengerti dan memahami ZIS (Zakat – Infaq – sedekah) secara benar, sehingga kita bisa berniat yang benar dan beramal yang benar. Insya Allah.

Untuk itu pada Bab I ini kami kedepankan kajian ilmu tentang niat, karena amal berupa zakat, infaq, sedekah, hadiah dan hibah akan bergantung pada niatnya. Sedangkan selama ini banyak orang yang tidak paham tentang niat dalam beramal. Apa cukup di batin saja atau harus di ucap dan kemnfaatan dalam beramal. Insya Allah, dengan memahami betapa pentingnya niat dalam beramal, akan banyak keajaiban pada setiap sedekah yang kita keluarkan.

 

 3. Quantum Jump Sedekah

Lompatan Kuantum Sedekah adalah perubahan mendadak, peningkatan mendadak, atau kemajuan dramatis dari suatu (energi) keadaan buruk ke energi keadaan yang lebih baik dalam satu sistem, dikarenakan melakukan sedekah atau infaq. Kehebatan ZIS (Zakat Infaq Sedekah) jika dilakukan dengan niat (yang benar) disertai kesabaran, keikhlasan dan keyakinan, spontanitas akan menggerakan energi-energi (dengan kecepatan tinggi) dari langit (turun) atas perintah Allah SWT  dibawah kendali para malaikat untuk :

Menyelesaikan Semua Masalah, Membersihkan & Menyucikan Hati, Menenangkan Jiwa dan menjadikan bahagia, Mengabulkan Hajat agama, dunia dan akhirat. Menarik, Melancarkan, Memperbanyak Rezeqi, Menyembuhkan Penyakit, Menjadikan Sehat, Kuat dan panjang umur. Menolak Balak Bencana. Mencapai Keberhasilan, Kesuksesan, Keberkahan dalam urusan Agama, Dunia & Akhirat.

Bukti dalil Al Qur’an dan ratusan hadist tentang keutamaan dan kemanfaatan dari sedekah tidak bisa dipungkiri. Terutama testimoni dari para pelaku tidak terhitung jumlahnya. Mulai zaman sahabat hingga zaman sekarang.

Kekuatan sedekah mencapai quantum dalam skala atom dan energi yang sangat besar. Makin masuk atau senang dengan sedekah makin besar energi iman seseorang. Sebagaimana Nabi saw bersabda ; bahwa sedekah bukti kebanaran dari iman.

Kekuatan sedekah bisa mengubah keadaan alam dan kejadian buruk yang dialami seseorang menjadi lebih baik. Makin tersembunyi sedekahnya (tidak menceritakan) makin besar energi manfaatannya. Makin sabar dan ikhlas dalam bersedekah makin besar energi pahala yang di dapat.

 Ilustrasi Penumpang & Kendaraannya

Jika digambarkan bahwa : DOA, keinginan ataupun hajat seseorang adalah penumpang, berarti infaq/sedekah adalah kendaraannya. Kendaraannya bisa berupa becak, sepeda motor, mobil, bis, expedisi atau pesawat, tergantung besar kecilnya permasalahan atau keinginan. Apabila bobot keinginan/masalah yang ingin diselesaikan sebesar 1 ton tidak layak dinaikan becak atau sepeda motor, minimal bis. Ingin cepat ya naik pesawat tapi mahal biayanya (nilai sedekahnya).

Ada juga biaya murah dengan bermodal niat, sabar, ikhlas, yakin disaat momen yang tepat, seperti Nabi saw bersabda : sedekah 1 biji kurma bisa memadamkan api neraka.

Sedekah menciptakan medan magnet quantum, bisa menolak bahaya atau musibah dan menarik sesuatu yang dihajatkan. Sedekah menarik energi dari langit dan energi alam semesta karena perintah Allah SWT.

Lompatan quantum sedekah pasti akan terjadi, karena dalam Al Qur;an dan Hadits telah dijelaskan secara gamblang. Para pelaku sedekah akan mengalami perubahan, peningkatan dan kemajuan secara mendadak dan dramatis pada kehidupan orang yang selalu melakukan sedekah. Ada  yang ingin rezeqinya lancar, penyakit cepat sembuh, panjang umur, husnul khotimah, di ampuni dosa-dosanya, turunya rahmat, perdagangan menjadi maju, bahagia, tertolaknya musibah kecil maupun besar.

Quantum Jump atau Quantum Leap atau lompatan quantum dalam sedekah akan terjadi secara maksimal jika pelakunya memahami dan melakukannya dengan berdasar :ILMU – HATI – UCAPAN – PERBUATAN  (amal/sedekah). Semua terangkai pada aspek NIAT.

(Catatan tentang quantum leap dalam sedekah, kami kupas secara panjang lebar di Buku Jillid 2)

 

KATA PENGANTAR

 

KATA PENGANTAR

 

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Segala puji bagi Allah yang telah menerangi hati orang-orang yang beriman dengan ma’rifah, lalu hati mereka menjadi tenang dengan tauhid. Ya Allah, semoga berkah dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan para sahabatnya  yang beriman dan mengerjakan amal saleh, hingga  hari yang dijanjikan kelak.

Dalam perjalanan hidup yang penuh liku, seringkali kita terjerembab pada masalah-masalah kehidupan yang sulit untuk diatasi. Usaha dan ikhtiar telah dijalani, yang dibarengi dengan Ibadah dan Doa / Munajat pada Sang Ilahi, memohon agar hidup ini tidak susah, selalu bahagia dan semua keinginan terwujud. Tapi realita yang ada, apa yang kita lakukan seakan-akan sia-sia tanpa hasil. Keadaan buruk ini tidak mau berubah, seperti apa yang kita minta. Apakah ini semua adalah Taqdir ?

Sebagian orang bertanya, kenapa hal ini terjadi pada diriku. Aku sudah menjalankan Ibadah yang begitu lama. Doaku selalu kusanandungkan di setiap waktu. Usaha dan ikhtiar telah aku lakukan tiada kenal lelah. Tapi nasib ini tetap tidak mau berubah !

Kenyataan-kenyataan ini banyak terjadi pada kehidupan umat Islam pada khususnya. Kenapa hal ini terjadi hampir sebagian besar umat muslim ?. Disebabkan Karena kurangnya pemahaman tentang amal sedekah.

Hampir semua muslim lebih mengutamakan ibadah (ubudiyah), yaitu Sholat, Doa & Dzikir, membaca Al Qur’an dan lain-lainnya. Setiap kali kita bertemu dengan teman atau saudara, selalu berujar ”sudah sholat” atau ”Ayo Sholat”. Orang tua memberi nasehat kepada anak-anaknya. selalu berucap ”Jangan sampai kau tinggalkan sholat dimana saja”.

Pernahkah kita mendengar ada orang berujar ”Sudah beramal / Sedekah” atau ” Ayo sedekah”. Sedangkan kalau kita tilik secara seksama, perintah Allah Ta’ala dalam firmanNya  QS. Al Baqarah : 83 :

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.

Perintah Shalat dan zakat selalu beriringan. Ada Sholat fardlu dan ada Sholat sunnah. Ada zakat wajib, juga ada zakat sunnah ( Sedekah & Infaq). Jika kita rutin melakukan sholat fardlu dan sholat sunnah , ya otomatis kita harus rutin zakat wajib dan zakat sunnah.

Di masyarakat kita pengetahuan, kesadaran dan pengalaman terhadap perintah shalat sudah cukup merata, namun tidak begitu dengan perintah zakat. Sementara Al-Qur'an menyebutkan perintah shalat dan zakat dalam 27 tempat atau ayat, sehingga pelaksanaan shalat dan zakat merupakan satu kesatuan yang tidak mungkin dipisahkan.

Jika seseorang sholat fardlunya baik, maka keseimbanganya sedekah wajibnya (zakat) harus mengikutinya. Jika senang dengan sholat-sholat sunnah berarti keselerasaannya harus senang dengan sedekah sunnah yaitu infaq. Terjadilah keselarasan  hubungan dengan Tuhan (hablum minalloh)  dan hububungan dengan manusia

Hal ini tercermin pula pada masa pemerintahan Abu Bakar ra, saat melihat dalam masyarakat mulai ada pemilahan antara perintah zakat dan shalat, beliau meng- ungkapkan: "Demi Allah, saya akan memerangi orang-orang yang memisahkan antara shalat dan zakat, karena zakat adalah kewajiban atas harta". (HR Jama'ah ).

Inilah sebenar-benarnya inti permasalahan hidup masyarakat kita. Sebagai jawaban dan Solusi untuk menyelesaikan masalah dan merubah nasib atau keadaan buruk yang menimpa. Kurangnya amal sholih yaitu Sedekah, menjadikan kehidupan ini menjadi ruwet, penuh problem, penuh intrik, penuh tipuan dan kesengsaraan.

Jika anda membaca dengan seksama setetes ilmu yang ada di buku ini, insya Allah akan menjadi jawaban dari permasalahan-permasalahan yang anda alami.Ubahlah Nasibmu, dengan selalu melakukan Sedekah !

Sidoarjo, September 2015

Gus Iswahyudin Al Mukasyafah ( Gus Is )

TUNTASKAN MASALAH DENGAN SEDEKAH

 

Cover & Hal 1-3











LEMBAR INFAQ PEMBANGUNAN TAHUN 2025-2026

 LEMBAR INFAQ KOLEKTIF
TAHUN 2025-2026





LEMBAR INFAQ PEMBANGUNAN TAHAP 8

LEMBAR INFAQ PERORANGAN
TAHUN 2025 - 2026 




BTricks

Recent Posts

BThemes